Susunan Acara Khitanan Bahasa Sunda

Susunan Acara Khitanan Bahasa Sunda

Uses cookies to personalize content, tailor ads and improve the user experience. By using our site, you agree to our collection of information through the use of cookies. To learn more, view ourPrivacy Policy.

Berkembangnya pembangunan pariwisata selain mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat, yakni secara ekonomi, sosial dan budaya, juga bisa menimbulkan dampak permasalahan bagi masyarakat jika pengembangannya tidak dipersiapkan dan dikelola dengan baik. Salah satu pendekatan yang dapat dipergunakan guna mengembangkan kegiatan pariwisata adalah konsep desa wisata dan ekowisata berbasis partisipasi masyarakat. Berbeda dengan pariwisata konvensional, desa wisata dan ekowisata merupakan kegiatan wisata yang memberikan dampak langsung terhadap konservasi kawasan, berperan dalam usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, serta mendorong konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji aktifitas pengelolaan Kemiren sebagai desa wisata dan ekowisata berbasis partisipasi masyarakat, 2) memetakan faktor pendukung dan penghambat pengembangan pariwisata berbasis partisipasi masyarakat, 3) mengkaji bentuk partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pariwisata, dan 4) merancang model atau strategi pengembangan desa wisata dan ekowisata berbasis partisipasi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian deskriptif kualitatif yang berlangsung sejak Mei hingga September 2013 ini menerapkan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data, metode analisis interaktif untuk mengolah data, dan analisis kuantitatif SWOT untuk merumuskan model atau strategi pengembangan desa wisata dan ekowisata yang paling tepat bagi Desa Kemiren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kemiren memiliki 5 daya tarik wisata utama, yaitu seni tradisi, ritual adat, arsitektur tradisional, suasana alam pedesaan dan tradisi budidaya padi serta anjungan wisata. Aktifitas pengelolaan kelima daya tarik tersebut dalam sebuah desa wisata dan ekowisata berbasis partisipasi masyarakat telah berjalan, tetapi masih belum maksimal karena 14 faktor pendukung dan 10 faktor penghambat. Sementara itu terdapat 5 tipologi partisipasi masyarakat dalam pengembangan desa wisata dan ekowisata di Kemiren, yaitu partisipasi pasif, partisipasi dalam pemberian informasi, partisipasi dengan konsultasi, partisipasi untuk mendapatkan insentif materi, dan partisipasi fungsional. Hasil penilaian faktor internal dan eksternal (analisis kuantitatif SWOT) Desa Kemiren untuk pengembangan desa wisata dan ekowisata berbasis partisipasi masyarakat secara keseluruhan dijabarkan dalam 15 strategi prioritas pengembangan. Kata kunci: strategi pengembangan, desa wisata, ekowisata, partisipasi masyarakat, Kemiren

Ensiklopedi Islam Nusantara ini menjadi tolok ukur sekaligus pengakuan bahwa Islam Nusantara mempunyai sejarah panjang di Indonesia. Penerbitan ini juga menemukan momentumnya terutama setelah launching titik nol Islam Nusantara di Baros awal tahun 2017 oleh Presiden Joko Widodo. Launching tersebut sekaligus menunjukkan akan adanya pengakuan bahwa Islam Nusantara memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengelolaan bangsa Indonesia yang majemuk ini; dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta, yang dihuni oleh 714 suku bangsa, 500-an bahasa, ribuan tradisi budaya, dan 6 agama serta ratusan kepercayaan lokal. Islam Nusantara mampu memposisikan diri sebagai kekuatan agama yang mengintegrasikan dan mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia dalam bingkai utuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlu ditegaskan bahwa Islam Nusantara sebagai sebuah identitas adalah nilai-nilai Islam yang diimplementasikan di bumi Nusantara, dan sudah lama dipraktikkan oleh para pendahulu kita. Salah satu ciri Islam Nusantara adalah bagaimana santun dalam menyebarkan ajaran agama. Islam disebarkan oleh para ulama yang sebagiannya diinformasikan dalam buku ini.

Acara Khitanan Anak Artis Yang Mewahnya Bak Pesta Pernikahan

Agama lokal, seperti halnya agama-agama lain di Indonesia, berkembang cukup dinamis dengan segala persoalan yang dihadapinya. Bagaimana kepercayaan Islam Wetu Telu hingga kini keberadaannya masih tetap eksis di masyarakat adat di Bayan, Pulau Lombok? Jajang Jahroni dan Dadi Darmadi pada bab ini (hal. 155-202) mengkaji berbagai literatur dalam dan luar negeri tentang agama dan budaya di Lombok dan menjelaskan berbagai faktor bagaimana Islam Wetu Telu mampu bertahan secara dinamis di tengah gempuran perubahan sosial yang cepat: perkembangan birokrasi pemerintah, pendidikan, dakwah Islam dan industri turisme Pulau Lombok. Proses sosial di Bayan berlangsung cukup dinamis, dan hal itu lebih menunjukkan integrasi yang berjalan cukup baik antara adat, agama dan hukum negara. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilakukan kedua penulis dengan tema Dinamika Agama Lokal di Indonesia, yang dilakukan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Kementerian Agama RI (2013).

Merebaknya isu pengarusutamaan gender sebagai wacana internasional secara bertahap membangun kesadaran manusia mengenai posisi kaum perempuan yang masih menjadi subordinat kaum laki-laki; termarjinalkan baik secara sosial, politik, maupun budaya. Kajian feminis dilakukan untuk menguak kemungkinan adanya kekuatan patriarki yang membentuk peran jenis laki-laki dan perempuan, relasi antar keduanya, dan perlawanan terhadap dominasi tersebut, pun terhadap karya sastra. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertolak dari fakta yang terdapat pada drama Barong Using di Kemiren; yaitu adanya 2 tokoh perempuan dan 2 tokoh laki-laki yang menjadi sentral penceritaan sehingga tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran serta relasi gender dalam pandangan dunia masyarakat adat Using Kemiren sebagaimana terepresentasikan dalam lakon Barong Kemiren dengan analisis struktural-feminis.Terlebih sebagai salah satu jenis folklor setengah verbal (sastra lisan) yang masih sangat populer dan diapresiasi hingga saat ini, lakon yang ditampilkan dalam pertunjukan Barong Kemiren merupakan refleksi dari pengetahuan, budaya, tradisi, dan mindset masyarakat yang melahirkannya. Pengumpulan data diawali dengan studi pustaka dan selanjutnya studi lapangan dengan teknik wawancara, observasi, perekaman, pencatatan, dan pengarsipan. Analisis struktural cerita menunjukkan bahwa pertunjukan Barong Kemiren terbagi dalam 4 lakon yang masing-masing memiliki alur tradisional yang sudah tetap. Tokoh-tokoh yang ada dalam pertun-jukan Barong Kemiren adalah manusia, raksasa, binatang jadi-jadian dan jin. Sebagian besar adegan dalam pertunjukan Barong Kemiren berlatar sebuah hutan belantara imajiner, hal ini mendukung tema utama dalam seluruh lakon ini yaitu perjuangan manusia dalam relasinya dengan sesama manusia, alam, dan makhluk halus. Analisis feminis yang berhubungan dengan peran dan relasi gender dalam seluruh lakon Barong Kemiren memperlihatkan adanya perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi tokoh laki-laki demi mencapai kesetaraan gender melalui jalan dan bentuk yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tema kesetaraan gender telah ada pada kultur masyarakat Using sejak dahulu seperti terefleksikan dalam lakon Barong Kemiren dan secara tersirat menunjukkan nilai-nilai kearifan lokal tentang pola relasi ideal laki-laki perempuan yang setara untuk mencapai harmoni dalam kehidupan. Kata Kunci: peran gender, relasi gender, sastra lisan, lakon Barong Using Kemiren, analisis struktural-feminis

Agama lokal, seperti halnya agama-agama lain di Indonesia, berkembang cukup dinamis dengan segala persoalan yang dihadapinya. Bagaimana kepercayaan Islam Wetu Telu hingga kini keberadaannya masih tetap eksis di masyarakat adat di Bayan, Pulau Lombok? Jajang Jahroni dan Dadi Darmadi pada bab ini (hal. 155-202) mengkaji berbagai literatur dalam dan luar negeri tentang agama dan budaya di Lombok dan menjelaskan berbagai faktor bagaimana Islam Wetu Telu mampu bertahan secara dinamis di tengah gempuran perubahan sosial yang cepat: perkembangan birokrasi pemerintah, pendidikan, dakwah Islam dan industri turisme Pulau Lombok. Proses sosial di Bayan berlangsung cukup dinamis, dan hal itu lebih menunjukkan integrasi yang berjalan cukup baik antara adat, agama dan hukum negara. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilakukan kedua penulis dengan tema Dinamika Agama Lokal di Indonesia, yang dilakukan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Kementerian Agama RI (2013).

Merebaknya isu pengarusutamaan gender sebagai wacana internasional secara bertahap membangun kesadaran manusia mengenai posisi kaum perempuan yang masih menjadi subordinat kaum laki-laki; termarjinalkan baik secara sosial, politik, maupun budaya. Kajian feminis dilakukan untuk menguak kemungkinan adanya kekuatan patriarki yang membentuk peran jenis laki-laki dan perempuan, relasi antar keduanya, dan perlawanan terhadap dominasi tersebut, pun terhadap karya sastra. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertolak dari fakta yang terdapat pada drama Barong Using di Kemiren; yaitu adanya 2 tokoh perempuan dan 2 tokoh laki-laki yang menjadi sentral penceritaan sehingga tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran serta relasi gender dalam pandangan dunia masyarakat adat Using Kemiren sebagaimana terepresentasikan dalam lakon Barong Kemiren dengan analisis struktural-feminis.Terlebih sebagai salah satu jenis folklor setengah verbal (sastra lisan) yang masih sangat populer dan diapresiasi hingga saat ini, lakon yang ditampilkan dalam pertunjukan Barong Kemiren merupakan refleksi dari pengetahuan, budaya, tradisi, dan mindset masyarakat yang melahirkannya. Pengumpulan data diawali dengan studi pustaka dan selanjutnya studi lapangan dengan teknik wawancara, observasi, perekaman, pencatatan, dan pengarsipan. Analisis struktural cerita menunjukkan bahwa pertunjukan Barong Kemiren terbagi dalam 4 lakon yang masing-masing memiliki alur tradisional yang sudah tetap. Tokoh-tokoh yang ada dalam pertun-jukan Barong Kemiren adalah manusia, raksasa, binatang jadi-jadian dan jin. Sebagian besar adegan dalam pertunjukan Barong Kemiren berlatar sebuah hutan belantara imajiner, hal ini mendukung tema utama dalam seluruh lakon ini yaitu perjuangan manusia dalam relasinya dengan sesama manusia, alam, dan makhluk halus. Analisis feminis yang berhubungan dengan peran dan relasi gender dalam seluruh lakon Barong Kemiren memperlihatkan adanya perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi tokoh laki-laki demi mencapai kesetaraan gender melalui jalan dan bentuk yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tema kesetaraan gender telah ada pada kultur masyarakat Using sejak dahulu seperti terefleksikan dalam lakon Barong Kemiren dan secara tersirat menunjukkan nilai-nilai kearifan lokal tentang pola relasi ideal laki-laki perempuan yang setara untuk mencapai harmoni dalam kehidupan. Kata Kunci: peran gender, relasi gender, sastra lisan, lakon Barong Using Kemiren, analisis struktural-feminis

Agama lokal, seperti halnya agama-agama lain di Indonesia, berkembang cukup dinamis dengan segala persoalan yang dihadapinya. Bagaimana kepercayaan Islam Wetu Telu hingga kini keberadaannya masih tetap eksis di masyarakat adat di Bayan, Pulau Lombok? Jajang Jahroni dan Dadi Darmadi pada bab ini (hal. 155-202) mengkaji berbagai literatur dalam dan luar negeri tentang agama dan budaya di Lombok dan menjelaskan berbagai faktor bagaimana Islam Wetu Telu mampu bertahan secara dinamis di tengah gempuran perubahan sosial yang cepat: perkembangan birokrasi pemerintah, pendidikan, dakwah Islam dan industri turisme Pulau Lombok. Proses sosial di Bayan berlangsung cukup dinamis, dan hal itu lebih menunjukkan integrasi yang berjalan cukup baik antara adat, agama dan hukum negara. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilakukan kedua penulis dengan tema Dinamika Agama Lokal di Indonesia, yang dilakukan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Kementerian Agama RI (2013).

Merebaknya isu pengarusutamaan gender sebagai wacana internasional secara bertahap membangun kesadaran manusia mengenai posisi kaum perempuan yang masih menjadi subordinat kaum laki-laki; termarjinalkan baik secara sosial, politik, maupun budaya. Kajian feminis dilakukan untuk menguak kemungkinan adanya kekuatan patriarki yang membentuk peran jenis laki-laki dan perempuan, relasi antar keduanya, dan perlawanan terhadap dominasi tersebut, pun terhadap karya sastra. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertolak dari fakta yang terdapat pada drama Barong Using di Kemiren; yaitu adanya 2 tokoh perempuan dan 2 tokoh laki-laki yang menjadi sentral penceritaan sehingga tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran serta relasi gender dalam pandangan dunia masyarakat adat Using Kemiren sebagaimana terepresentasikan dalam lakon Barong Kemiren dengan analisis struktural-feminis.Terlebih sebagai salah satu jenis folklor setengah verbal (sastra lisan) yang masih sangat populer dan diapresiasi hingga saat ini, lakon yang ditampilkan dalam pertunjukan Barong Kemiren merupakan refleksi dari pengetahuan, budaya, tradisi, dan mindset masyarakat yang melahirkannya. Pengumpulan data diawali dengan studi pustaka dan selanjutnya studi lapangan dengan teknik wawancara, observasi, perekaman, pencatatan, dan pengarsipan. Analisis struktural cerita menunjukkan bahwa pertunjukan Barong Kemiren terbagi dalam 4 lakon yang masing-masing memiliki alur tradisional yang sudah tetap. Tokoh-tokoh yang ada dalam pertun-jukan Barong Kemiren adalah manusia, raksasa, binatang jadi-jadian dan jin. Sebagian besar adegan dalam pertunjukan Barong Kemiren berlatar sebuah hutan belantara imajiner, hal ini mendukung tema utama dalam seluruh lakon ini yaitu perjuangan manusia dalam relasinya dengan sesama manusia, alam, dan makhluk halus. Analisis feminis yang berhubungan dengan peran dan relasi gender dalam seluruh lakon Barong Kemiren memperlihatkan adanya perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi tokoh laki-laki demi mencapai kesetaraan gender melalui jalan dan bentuk yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tema kesetaraan gender telah ada pada kultur masyarakat Using sejak dahulu seperti terefleksikan dalam lakon Barong Kemiren dan secara tersirat menunjukkan nilai-nilai kearifan lokal tentang pola relasi ideal laki-laki perempuan yang setara untuk mencapai harmoni dalam kehidupan. Kata Kunci: peran gender, relasi gender, sastra lisan, lakon Barong Using Kemiren, analisis struktural-feminis

0 Response to "Susunan Acara Khitanan Bahasa Sunda"

Posting Komentar

r